mendidik anak #1

"kemaren dede cerita, si faisal mah enak, dibeliin motor baru sama papahnya", kata ibu. 

saya cuma ketawa. kemudian kepikiran.. 

kenapa ya anak-anak lain selalu segampang itu dapet apa-apa yang mereka mau? sementara saya & si adek harus selalu susah payah ketika minta ini itu. 

saya ga dididik manja dari kecil. kalo sampe sekarang manja, ya anggap aja itu mah bawaan orok & efek kelamaan jadi semata wayang. masa kecil saya bahagia. saya dibahagiakan oleh hadirnya teman-teman super yang semuanya berasal dari keluarga kurang mampu. tumbuh di kampung kecil yang masyarakatnya kebanyakan berprofesi sebagai pemulung bikin saya terbawa buat hidup prihatin, ga banyak nuntut & selalu bersyukur. meski memang, ketika lihat teman-teman di sekolah pamer mainan baru, saya suka ikut kepengen juga. hahaa 

ibu jarang beliin saya mainan atau boneka. akhirnya, ayah tempat rengekan terbaik saya kalau pengen mainan baru. mainan saya banyak. satu keranjang besar. tapi semuanya bukan mainan mahal. cuma mainan masak-masakan berbahan plastik, mainan dokter-dokteran, bola bekel, boneka barbie dan setumpuk bajunya yang saya jahit sendiri hasil menggunting lap di dapur, dan mainan-mainan murah lainnya. ingat tamiya? mobil mainan khusus balapan yang bisa dirakit sendiri. saya termasuk anak yang suka merakit robotan, makanya ketika ada tamiya, otomatis langsung merengek sama ayah. buat yang satu ini ayah menyerah. tamiya yang saya mau waktu itu harganya sekitar 50ribu. bukannya beliin buat saya, ayah malah nyuruh saya nabung. saat itu agak kecewa, meski akhirnya tetap nabung juga sampai tamiyanya alhamdulillah terbeli. saya sayang banget sama tamiya itu. 

dulu, ketika teman-teman saya di sekolah udah heboh main nintendo, saya cuma bisa diam mendengarkan mereka cerita. saya sendiri baru bisa dapat SEGA ketika berhasil jadi juara kelas, dan saat itu, udah ada teman yang punya PS 1. ketika teman-teman SMP sudah punya nokia 6600 & 7610, saya dibelikan nokia 3315. bukan untuk gaya, cuma supaya mudah minta jemput ayah sepulang sekolah. sejak dibelikan hp pertama itu, ayah ibu ga pernah mau beliin saya hp lagi. “kalo mau beli yang lebih bagus, nabung ya. beli pake uang sendiri”. dan itu terbukti. sampai sekarang punya lumia 620 (walaupun pengennya pegang iphone 5 :’) hiks ), saya ga pernah minta beliin hp sama ayah ibu. semua hp yang pernah mampir ditangan saya dibeli pakai uang tabungan atau uang hasil menang lomba. 

ketika si adek minta hp, syarat yang dikasih ayah ibu, “harus khatam quran selama ramadhan”. dia lulus. hp itu didapatnya. ketika minta ganti yang baru, ayah ibu bilang, “nabung tuh kayak si teteh.” dan dia beneran nabung sendiri. beli hp baru pakai uang tabungannya. suatu waktu pas tablet lagi hits banget, dia minta tablet, ayah ibu setuju buat beliin, syaratnya, “harus ke mesjid tiap waktu solat.” dia sanggupin. dan itu dia jalanin sampai sekarang. alhamdulillah..

banyak lagi contoh lain yang nunjukin kesusahpayahan saya & si adek buat dapetin barang-barang yang kami mau. ayah ibu kadang terlihat kejam dimata kami. kami juga kadang iri sama anak-anak yang bisa dengan mudah dapat gadget-gadget keluaran terbaru, sementara kami cuma bisa baca-baca reviewnya di internet. 

tapi akhirnya sekarang kami sadar bahwa apa yang dilakuin ayah ibu ya cuma buat didik kami mandiri & bisa lebih hargain apa-apa yang kami punya karena didapat dengan usaha sendiri. ayah ibu ga pernah didik kami jadi anak manja. mereka selalu berusaha menuhin apa-apa yang kami butuh dengan tetap didik kami lebih mandiri.

setiap orang tua punya cara masing-masing buat mendidik anak, semuanya sah-sah aja. tapi buat saya, cara ayah ibu mendidik saya & adek, udah cukup baik buat kami :) 

Untitled

Sebuah cerpen lama yang tak berjudul dan entah dibuat kapan 

***

Aku tidak pernah terlalu bermasalah dengan jarak. Baiklah kita perjelas, aku tidak pernah terlalu bermasalah dengan pacaran jarak jauh. Atau mari lebih kita perjelas, aku ini penganut LDR garis keras. Apakah hubungan LDR selama hampir 5 tahun sudah cukup jadi pembuktian? Oke, terima kasih.

Ini tahun kelima. Tapi rasanya, bahkan setelah hampir 5 tahun menjalin cinta dengan Dira, yang namanya cemburu atau insecure tetap saja ada. Terlebih sekarang, ketika akan menghadapi ujian LDR paling berat. Minggu depan, Dira berangkat ke Melbourne untuk program student exchange dari kampusnya. Entahlah, rasanya ini jadi ujian paling berat. Berlebihan ya? Baik, sekarang anggap saja aku ini sedang latihan acting untuk mengikuti casting sinetron. Jadi biarkan aku melebih-lebihkan urusan perasaan ini. Deal?

***

Sekarang, di kafe favorit kami, di hadapanku, Dira duduk tenang. Wajahnya teduh, senyumnya hangat, matanya tajam, dia tampan seperti biasanya. Dalam pertemuan sebelum melawan kejamnya jarak selama 6 bulan kedepan, kami malah saling diam.

“Kamu jangan terus-terusan ketergantungan sama aku. Kamu kan udah 20 tahun. Udah harus belajar mandiri ya..” ujarnya setelah dead air lama diantara kami.

Aku diam mendengar Dira berkata demikian. Kalau dibuat versi fantasinya, mungkin dalam situasi ini, Dira tengah menusuk-nusukkan belati sampai ke ulu hatiku,  kemudian menaburkan garam di atas lukanya. Sakit. Perih. Kira-kira begitu rasanya.

“Abis kamu jahat sih.. bikin aku ketergantungan terus,” jawabku.

“Buktinya?”

“Kamu selalu nurutin semua permintaan aku.”

“Nggak juga ah..”

“Emang apa permintaan aku yang pernah nggak kamu turutin?” tantangku.

Dira diam. Aku tahu ia tengah berpikir keras, mencari jawaban atas pertanyaanku. Aku sangsi ia akan menemukannya, sekeras apa pun otaknya bekerja.

“Minta aku nikahin, hahahahaaaa,” jawabnya diiringi tawa. Tawa yang paling aku suka.

“Aku nggak pernah minta itu!” bibirku maju beberapa centi, menunjukkan ketidaksukaan. Dira tertawa kecil, kemudian mengambil posisi duduk di sampingku. Tangannya menarik tubuhku mendekat padanya, lantas menyandarkan kepalaku kebahunya. Luka yang sudah ia buat makin parah, infeksi, entah bagaimana bisa diobati. Air mataku meleleh, basah menyentuh bahunya.

Dira mengelus kepalaku, “Kamu jangan nangis dong, sayang…”

Aku masih menangis tanpa suara. Kedua tanganku memeluk pinggangnya erat. Kami diam lagi.

***

Ini hari keberangkatan Dira, aku dan Ervan mengantarnya sampai air port. Setelah memeluknya sambil terisak selama beberapa menit. Aku melepas kepergian Dira dengan lambaian tangan tak rela. Dira dan senyumnya perlahan menghilang. Aku mulai merasakan kesepian.

Di mobil..

“Udah dong.. jangan pasang tampang menyedihkan gitu. Jelek tau!” Ervan mengacak rambutku, salah satu kebiasaan buruknya. Aku tak menanggapi. Mobil Ervan melaju kencang menuju rumahku dengan kebisuan diantara kami.

***

Hari-hari tanpa Dira ternyata tak seburuk yang kuduga. Secara kebetulan, organisasi kampus memaksaku untuk bekerja ektra mensukseskan suatu acara. Aku sibuk dibuatnya. Tak sempat galau memikirkan Dira. Bukan, bukannya kehabisan ruang dalam kepala untuk sedikit saja bayangnya, Dira tetap punya tempat tersendiri disudut memori, juga hati. Hanya saja, untuk saat ini, aku tak lagi merasa sendiri. Teman-teman membuatku merasa nyaman dalam keadaan ini.

Selain berkat adanya kehadiran teman-teman yang menyenangkan, keberadaan Ervan juga cukup menghapuskan kegalauan. Ia sahabatku dan Dira, sahabat terbaik yang kami punya.

“Kalau ada apa-apa, bilang sama gue ya..” kata Ervan suatu ketika, sambil mengacak rambutku seperti biasanya. Ya, walaupun jauh dari ayah ibu dan Dira, aku punya teman-teman, aku punya Ervan, setidaknya aku tak merasa sendirian di perantauan.

Komunikasi dengan Dira tidak berjalan lancar. Sms dan telepon terlalu mahal sebagai alat komunikasi. Skype cukup mengobati, tapi hanya bisa seminggu sekali, beberapa menit, Dira nampaknya sangat sibuk di sana. Aku mengerti. Ah, atau memaklumi? Sepertinya sama saja bukan?

Ervan kini sudah seperti sopir pribadi. Kemanapun aku pergi, selalu dia yang mendampingi. Ervan benar-benar tahu bagaimana harus menggantikan Dira. Dia mengantar jemput aku ke kampus setiap hari, juga menemaniku makan malam sesekali. Bahkan hari ini, ia menemani dan mengantar ke dokter ketika aku sakit.

Pagi-pagi sekali Ervan sudah mengetuk pintu kamar kostku. Dengan badan terhuyung dan wajah pucat, aku membuka pintu. Ketika Ervan melihatku, aku bisa lihat kekhawatiran yang teramat di matanya.

“Hey.. lo kenapa? Kok nggak bilang kalau sakit? Malah curhat di twitter..” kali ini Ervan tidak mengacak rambutku, ia mengelus kepalaku pelan penuh kasih sayang, lantas menuntunku masuk ke kamar dan menyuruhku rebahan di tempat tidur. Ia membawakan seporsi bubur ayam favoritku, eh tidak, favorit aku dan Dira. Itu bubur ayam yang biasa kami beli setiap pagi di depan kampus. Ervan mengambil posisi duduk di samping tempat tidurku, sambil memegang semangkuk bubur ayam, ia mulai menyuapiku. Segelas teh manis buatannya juga sudah tersaji di meja. Setelah bubur ayam kuhabiskan, ia memberikan teh manis hangat itu padaku. Aneh, teh manis hangat buatan Ervan rasanya mirip dengan yang selalu dibuatkan Dira untukku. Tidak terlalu manis. Entah kebetulan, entah ia memang tahu bagaimana racikan teh manis kesukaanku.

“Lo kok baik banget sih?” tanyaku padanya, dalam perjalanan pulang dari dokter pada malam harinya.

“Baik gimana?”

“Ya baik, dari kemaren ngurusin gue, sampe mau repot-repot nganter gue ke dokter kayak gini.

“Lo kan temen gue, nona Alzena.. kalau lo emang butuh bantuan, masa iya nggak gue bantu?”

Aku tak bertanya lagi. Jawaban itu memang tidak memuaskan, tapi aku sedang tidak ingin jadi seperti polisi yang tengah menginterogasi. Aku anggap itu jawaban terbaik yang bisa aku dapat dari Ervan.

Sekarang aku lebih banyak menghabiskan waktuku bersamanya. Yang tidak aku tahu, ternyata itu salah. Kini, ketergantunganku berpindah. Bukan lagi pada Dira, tapi Ervan. 

Sudah 6 bulan aku menjalani hari-hariku tanpa Dira. 6 bulan juga aku jadi semakin dekat dengan Ervan. Sampai-sampai, teman-teman mengira kami sudah pacaran. Aku hanya tertawa setiap kali ditanya tentang hubunganku dengan Ervan. Karena rasanya memang aneh, kenapa mereka bisa menganggap demikian? Aku dan Ervan kan hanya teman? Meski memang belakangan ini kami jadi sering pergi berduaan. Tapi hubungan kami tak lebih dari sekedar teman. Titik.

***

Hari ini Dira pulang. Tapi.. aku tak merasakan kebahagiaan yang meledak-ledak. Rasanya biasa saja. Rasanya aku masih sanggup kalaupun harus jauh darinya 6 bulan lagi. Hahaa.. ya, benar, mungkin karena Ervan. Peran Dira seperti sudah digantikan dengan sangat baik olehnya.

“Jadi, kita mau ke air port jam berapa?”  

Aku melirik jam tangan, “Menurut jadwal sih, 1 jam lagi pesawatnya landing, kita berangkat sekarang aja gimana?”

“Siap, nona!”

Kami berjalan menuju parkiran kampus. Selama perjalanan menuju air port, entah kenapa Ervan sama sekali tak bersuara, ia seperti baru saja kehilangan lidah atau mengalami kerusakan pita suara. Aku jadi ikut diam, karena memang biasanya, yang mengawali pembicaraan ya selalu Ervan.

“Lo kenapa?” akhirnya aku bertanya karena makin canggung dengan atmosfer di mobil yang tidak seperti biasanya.

“Kenapa apanya?” Ervan malah balik bertanya dengan nada datar.

“Kok diem aja sih?”

Ervan tertawa, tapi tak memberikan jawaban apa-apa. Akhirnya kupilih diam.

Sampai beberapa saat sebelum tiba di air port…

“Al..”

“Ngomong juga akhirnya..”

“Hahahaaa.. apaan sih? Aku mau ngomong serius nih.”

Tunggu. Aku? Sejak kapan Ervan mengganti kata ganti pertama menjadi “aku”? Aku mengubah posisi dudukku, menghadap Ervan yang pura-pura serius menyetir, “Tumben.. emang mau ngomong apa?”

Ervan malah bungkam. Aku menunggu.

“Apa sih, Van? Buruan ngomong, udah mau nyampe nih..” desakku.

“Kalau aku sayang sama kamu gimana, Al?” kata Ervan kemudian. Nada suaranya bergetar, seperti ragu untuk mengatakannya.

Kini giliran aku yang kehilangan daya untuk berbicara.

Dengan terbata-bata, aku balik bertanya, “Kamu nggak salah, Van?”

Oh well, aku malah terbawa ber-aku-kamu dengan dia.

Secara tiba-tiba Ervan menghentikan laju mobilnya dibahu jalan, tepat sebelum memasuki kawasan Bandara Soekarno-Hatta. 

Ia menghadapkan tubuhnya padaku, lantas berkata.. “Aku tau ini salah, Al, kamu kan masih punya Dira, Dira juga sahabatku, nggak sepantasnya aku ngomong gini ke kamu. Tapi aku nggak bisa terus-terusan bohong kalau kedekatan kita selama 6 bulan ini ngasih aku harapan. Maafin aku, Al..”

Aku tak bereaksi, hanya menatapnya yang kini tertunduk.

“Aku nggak tau harus bilang apa. Karena kenyataannya, selama 6 bulan ini segala hal emang mulai berubah. Aku, kamu, Dira. Hubungan kita makin dekat ketika aku sama Dira makin jauh. Tapi aku nggak tau apa ini artinya aku mulai sayang sama kamu dan kehilangan rasa sama Dira, atau cuma karena terbawa suasana,” kataku pada akhirnya.  

Ervan mengangkat wajahnya, “Kamu sayang aku, Al?”

Hatiku seperti baru saja dihantam palu besi dengan keras. Aku tak bisa bilang iya atau tidak. Aku tak bisa memberikan jawaban apa-apa. 

“Bentar lagi pesawat Dira landing, yuk cepetan!” kataku pada akhirnya, setelah dead air lama diantara kami.

Ervan tak menuntut jawaban. Ia lekas tancap gas menuju terminal kedatangan pesawat yang ditumpangi Dira.

Kami tak menunggu terlalu lama, mobil Ervan sampai di air port ketika Dira tiba di pintu kedatangan. Aku segera menghampiri Dira yang tengah mendorong trolly. Dira tersenyum. Senyum itu, senyum yang aku rindukan itu, hari ini ternyata masih bisa melelehkan hatiku.

            “How’re you, dear?” tanya Dira disela peluknya yang belum terlepas dariku.

            “Really, really, fine,” senyumku merekah.

            Kemudian perhatian Dira mengalih pada Ervan, “Hey, bro, apa kabar lo?”

            “Baik. Cewek lo nih yang nggak baik, minggu kemarin hampir kena thypus tuh dia. Hahaha”

            Pandangan Dira cepat beralih ke arahku, “Kamu kenapa nggak bilang kalau sakit?”

            Aku tertawa kecil, “Aku nggak apa-apa kok sayang, lagian ada Ervan yang jagain, hehee..”

Seketika kulihat air muka Dira berubah, meski ia berusaha tersenyum.

“Ya udah yuk buruan pulang, Dira pasti capek pengen istirahat,” kata Ervan memecah kebekuan.

***

Dira sudah kembali, duniaku normal lagi. Komunikasi kami berjalan seperti biasa, pertemuan sudah bukan lagi jadi barang mahal. Tapi.. rasanya ada yang hilang. Ervan menjauh. Ini mulai terasa mengganggu. Keberadaan Dira ternyata tak mampu mengusir galauku. Apa hati mulai mengubah haluannya? Apa mungkin ke arah Ervan? Aku tidak tahu.

Sampai pada suatu malam, Ervan mengajak aku dan Dira untuk bertemu di kafe favorit kami.

“Ada apa sih, Van? Tumben ngajak ketemuan gini?” Dira bertanya setelah kami duduk berhadapan, bertiga.

“Gue mau pamitan. Gue.. besok berangkat bareng nyokap ke New York. Bokap udah nyiapin keperluan kuliah gue disana.”

“Van, kok mendadak banget?” giliran aku yang bertanya.

“Sebenernya ini nggak mendadak. Dira tahu kok. Gue mau pergi dari 6 bulan lalu, hampir barengan sama keberangkatan Dira ke Melbourne. Tapi ketika Dira tahu kalau gue juga mau pergi, Dira minta gue buat tetep di sini, at least sampai dia balik. Dira minta gue jagain lo, Al. Dia ngajarin gue banyak hal tentang lo,” Ervan tersenyum. Tapi aku tahu senyum itu palsu.

Air mataku tak terbendung. Aku menunduk.

“Lo nggak boleh pergi..”

Dira yang duduk di sebelahku sontak menoleh.

“Kenapa, Al?” tanya Ervan.

Pertanyaan itu benar-benar menyudutkanku. Aku tak tahu jawabannya. Aku hanya benar-benar tak ingin Ervan tinggalkan.

“Al, kamu sayang Ervan?” pertanyaan kedua, dari Dira.

Ini lebih menyudutkan, sekaligus menyakitkan. Aku benar-benar tak punya jawaban.   

“Aku nggak tahu..” tangisku pecah, air mata membentuk aliran-aliran kecil di pipi. Dira yang duduk di sampingku menarik tubuhku mendekat, menyandarkan kepalaku dibahunya, seperti biasa.

“Ervan udah cerita semuanya. Aku nggak apa-apa kok kalau emang kamu sayang Ervan. Kemungkinan ini udah aku perkirakan. Emang aku yang minta Ervan jaga kamu, gantiin peran aku selama aku nggak ada, selama aku nggak bisa nemenin kamu kayak biasa. Aku paham kalau emang akhirnya Ervan bisa bikin kamu nyaman. Aku cuma pengen kamu aman selama aku nggak ada, setidaknya aku nggak khawatir kalau ada apa-apa sama kamu, karena ada Ervan yang bisa jagain kamu,” Dira mengelus kepalaku lembut.  

Aku masih tak bisa berkata apa-apa. Air mata kian deras membasahi bahu Dira. Ervan diam saja. Mungkin kebingungan yang kami rasakan juga sama. Perasaan ini tak seharusnya ada.

“Aku nggak mau nyakitin siapapun.”

I’m gonna be fine kok, Al, kalau emang lo tetep sama Dira. Gue atau Dira nggak maksa lo buat milih kan? Dan gue tahu betul kalau gue sebenernya nggak berhak jadi bagian dari hubungan kalian. Anggap aja sekarang ini kita cuma lagi terbawa suasana.”

Aku mencoba membantah, “Gue nggak mau jadi egois.”

You’re not, Al, you deserve better..” ucap Dira.

“Nggak, Dir, buat lindungin hati kita masing-masing dari rasa sakit, lebih baik kita cari kebahagiaan sendiri-sendiri.”

“Jadi, kita putus, Al?” tanya Dira dengan nada putus asa.

Aku mengangguk, kemudian memeluknya erat. Sulit rasanya melepas Dira, tapi aku juga tak bisa menyakiti Ervan.

Aku berusaha melindungi semua hati, tapi nyatanya, 3 hati patah malam ini.

definisi cantik
baru naik dari kolam renang, ngegosipin cewe-cewe cantik sama si pacar..
rizky: " iya sih.. ukhti C tuh cantik, eh tapi si R juga cantik tauuu."
megan: "definisi cantik menurut kamu tuh kayak gimana sih? ukhti C sama si R kan beda banget. seleranya ga konsisten nih."
rizky: "beb, abis ini kita ke pasar yuk."
megan: "ngapain?"
rizky: "beli cermin, buat kamu ngaca. biar bisa liat definisi cantik menurut aku."
megan? semaput saat itu juga abis digombalin pacar sendiri.

sekarang aku tau kenapa kamu ga pernah mau nyanyi sambil main gitar buat aku :)

quote

"I’m done and thank you :)"
ternyata masih MUSUH

JENG JENGGGGGGGG..

randomly dipertemukan Tuhan sama wordpress seseorang waktu berselancar di dunia maya dengan tujuan nyari tugas. karena tau itu wordpress siapa, scroll-scroll dikit lah yaaa.. penasaran juga kan. hahaa 

dan tetiba menemukan fakta bahwa seseorang yang selama ini saya pikir udah biasa-biasa aja, udah maafin saya, udah ga mikirin lagi kejadian yang dulu itu, ternyata menganggap saya MUSUH. ya Tuhan.. sedih. sumpah. 

gimana sih rasanya dianggap musuh sama orang yang masih kamu sayang banget sampai sekarang? yang masih selalu kamu pikirin gimana perasaannya sampai sekarang? yang selalu kamu beri ucapan selamat ulang tahun setiap tahun tanpa dia tau? yang masih selalu kamu kangenin sampai sekarang karena dia pernah jadi salah satu yang paling berarti di hidup kamu? 

sakit aja, karena setelah selama ini saya berpikir dia menjauh dari saya dengan tujuan melindungi hatinya dari rasa sakit, ternyata dia lakuin itu karena masih menganggap saya musuh. 

ya udah sih, saya tau kenapa dia masih segitu marahnya sama saya. mungkin kalau saya jadi dia, saya juga bakal melakukan hal yang sama. saya juga ngerti kenapa TEMENNYA itu malah ikut-ikutan benci sama saya. haha.. 

oh well, saya capek. ya udah, mungkin maunya dia kayak gini. saya ga akan lagi nyentuh kehidupan dia. masih seberapa berartipun dia buat saya. saya pernah bilang ga ada yang namanya mantan sahabat. saya salah. sekarang saya punya. 

maaf teman, saya kecewa sama diri saya sendiri, karena ga bisa bawa kita balik kayak dulu. maaf.. 

quote

"Tuhan, tolong dekatkan aku dengan dia yang mendekatkan aku kepada-Mu :)"
Nyamannya Hidup

waktu masih kuliah dulu, rasanya pengen banget cepet lulus karena bosen sama rentetan tugas kuliah yang rasanya ga abis-abis. capek sama tekanan yang didapat dari dosen, himpunan, ukm. makan, tidur, istirahat, susah banget diatur waktunya, alhasil kesehatan kacau balau. 

dan sekarang kayak kangen aja gitu sama itu semua. hidup yang super flat gini malah bikin kangen jadi mahasiswa. 

alhamdulillah.. sekarang udah bisa rasain lagi nikmatnya jadi mahasiswa meski cuma seminggu sekali. kuliah setiap hari sabtu full dari jam 8.00-18.30. 4 mata kuliah, 12 sks, dan waktu istirahat yang cuma 30 menit waktu solat dzuhur & ashar. keliatannya mungkin capek, tapi saya bener-bener nikmatin itu. 

kemarin minggu kedua saya kuliah, kebetulan ayah ibu lagi pergi ke jakarta, jadi ga ada yang bisa antar saya. akhirnya saya nyetir sendiri rangkasbitung-serang. berangkat jam 6 pagi dan sampai disana tepat jam 7.30. cuma sempat sarapan roti yang dibeli di mini market & milo hangat yang saya bawa di lenscup.

kelas saya TPm-B. satu kelas jumlahnya sekitar 24 orang di absensi. tapi sejak minggu pertama, yang datang cuma 15 orang. semuanya udah kerja. bapak-bapak & ibu-ibu guru yang satu kelas sama saya kebanyakan emang kuliah biar bisa ngejar posisi kepala sekolah. yang paling tua seumuran ayah, namanya Pak Bambang, beliau guru geografi di salah satu SMA di Tangerang. katanya Pak Bambang punya anak cewek namanya Syifa, dan anaknya itu mirip saya. beliau sampe liatin fotonya Syifa ke saya & temen-temen yang lain buat mastiin kalo saya & Syifa mirip. karena itulah sekarang saya punya ayah baru di kelas, Ayah Bambang. haha.. dari awal kuliah, Pak Bambang ini emang dari awal kuliah udah keliatan banget tukang bodornya, dan saya selalu jadi objek kejailan beliau. sampe kemarin, saya selaluuuu aja dibilang bungsu. walaupun sebenernya ada satu orang yang kayaknya seumuran saya juga di kelas. cuma yang paling keliatan anak kecilnya emang saya sih, jadi selalu aja saya yang jadi objek iseng-iseng bapak-bapak & ibu-ibu yang lain (._.)    

tapi saya seneng banget.. temen-temen saya itu udah kayak orang tua & kakak buat saya. ada pak Bambang yang mendadak jadi ayah baru, ada bu Een yang selalu keliatan banget sikap keibuannya kalo lagi ngobrol sama saya, ada bu Maya yang udah kayak kakak buat saya, ada bu Tuti yang suka minjemin mukena, ada Pak Rudi yang rajin nawarin pulang bareng, dan temen-temen lain yang juga nyenengin. 

saya pikir kuliah bareng bapak-bapak & ibu-ibu itu bakal ngebosenin. dan ternyata saya salah besar. saya bisa liat dengan jelas semangat mereka buat kuliah, buat belajar, buat dapetin ilmu, bukan cuma gelar. saya liat gimana semangatnya mereka tiap diskusi di semua mata kuliah, mereka yang selalu share pengalaman, kasus-kasus di lapangan. semuanya jadi ilmu baru yang tadinya ga pernah saya tau. akhirnya pengetahuan saya jadi lengkap, ga cuma sebatas teori yang dikasih dosen, tapi juga gambaran kondisi di lapangan saat ini. 

2 dari 4 dosen yang ngajar saya bergelar Profesor. baru dua kali ketemu tapi saya udah hafal betul gelar & nama lengkap mereka. 

1. Prof. Dr. Ir. H. Rahman Abdullah, M.Sc, dosen Filsafat ilmu yang kerjaannya ngelawak. belajar filsafat sama beliau ga berasa kayak belajar filsafat karena kita malah kebanyakan ketawa daripada belajar, haha. saya baru tau kemarin kalo ternyata istri Prof. Rahman ini bergelar Profesor juga. what a perfect couple! :D 

2. Prof. Dr. Ir. Hj. Kartina AM, MP, dosen statistik terapan. ibu yang satu ini tampilannya sederhana, ga banyak gaya, tapi ngajarnya asik punya haha. sama kayak Prof Rahman, belajar statistik 3 sks sama beliau ga berasa. dari setengah 4 sampe setengah 7, seneng-seneng aja tuh. hihii

3. Pak Lily Barlia, M.Sc.Ed, Ph.D, beliau ini belum profesor, tapi S2 di New York & S3 di Ohio, beasiswa mennnnn.. 8 tahun doi di Amerika. bikin ngiri parah lah. ngajar Orientasi Baru dalam Psikologi Pembelajaran. sifat kebapakannya bikin nyaman & betah di kelas. 

4. Pak Dr. Sjaifuddin, M.Si, eh, M.Si bukan ya? Lupa, maap kalo salah ya, Pak (._.). beliau ngajar Metlit. asik juga ngajarnya alhamdulillah. keliatan banget idealisnya. dan terhitung sejak kemarin, saya bercita-cita mengajukan beliau buat jadi dosen pembimbing tesis saya, selain Prof. Kartina. aamiinnn! 

selesai kelas sekitar setengah 7. sebelum pulang shalat maghrib dulu di mesjid kampus. terus pulang sendiri, nyetir bruno di jalanan serang yang lagi padat sama kendaraan karena kemarin malam minggu. but it’s ok. saya nikmatin banget perjalanan malam itu. ditemani lampu-lampu jalan, kendaraan-kendaraan yang lalu lalang menuhin jalan & alunan musik dari radio yang bikin saya nyanyi-nyanyi sendiri sampe teriak-teriak. hahaa 

seneng. seneng banget. seharian kemarin nikmatin banget semua pelajaran di kelas. nikmatin banget bergaul dan ngobrol-ngobrol sama bapak, ibu & kakak baru. nikmatin banget perjalanan rangkasbitung-serang, serang-rangkasbitung, yang ditempuh sendirian, cuma ditemenin musik-musik hits yang diputerin radio lokal. 

bersyukur banget bisa rasain lagi jadi mahasiswa, hecticnya nugas, bergaul, feel so alive aja gitu.. setelah 2 bulan penuh cuma beredar dikehidupan ayah, ibu, adek & rizky. hahaa kayak nemuin lagi sesuatu yang pernah hilang. 

sekarang udah punya timeline & target yang harus dipenuhin. ga se-flat kemarin. semua udah mulai kembali normal. ya walaupun tetep aja statusnya pengangguran. tapi alhamdulillah masih bisa bikin kegiatan sehari-hari keisi sama hal-hal positif :) 

hidup lagi enak-enaknya nih sekarang. senin-jumat bebas ngapain aja, sabtu kuliah, minggu refreshing & quality time sama ayah ibu. tiap hari bisa ketemu rizky. I do love my life.

terima kasih Tuhan, terima kasih untuk rasa syukur ini.

kasih saya kemampuan buat selalu nyaman jalanin hidup ya :’) 

"Kalau cemburu itu dosa, nanti aku pasti masuk neraka."

~ttd, pacar yang cemburuan & minta di lempar ke alaska aja

Semacam Manajemen Qolbu (._.)

Buat saya, bahagia itu pilihan. Kamu bisa pilih buat sedih atau bahagia. Iya, tergantung kamu. Karena kebahagiaan itu bukan cuma datang dari orang lain tapi bisa kita ciptain sendiri, sama halnya kayak kesedihan.
Saya? Saya milih buat rasain keduanya bergantian, atau bahkan berbarengan. Ada yang bisa bahagia saat sedih atau sebaliknya? Saya bisa. Is it weird? (._.)
Emang ga selalu sih kebahagiaan & kesedihan itu bisa kita kontrol sendiri. Tapi toh, selalu ada cara buat memunculkannya kan?
Saya ini tipe orang yang kebanyakan milih buat sedih daripada bahagia. Kenapa? Biar bisa nulis. Hahaa tapi saya juga termasuk orang yang gampang bahagia. Sebotol cola aja bisa bikin saya berasa lagi main di disney land *padahal belom pernah (._.)*. Iya, akhirnya mood saya emang gampang banget kebolak-balik. Semoga ini bukan gejala Bipolar Disorder 1 ya.
Intinya sih, saya pikir kebahagiaan itu ga cuma dateng dari orang lain. You can create your own happines. Dengan caranya kamu sendiri. Kalo sekarang lagi banyak sedih & galau kayak saya, coba deh, sehariiii aja berpikir positif & lakuin hal-hal yang menyenangkan, termasuk banyak senyum *asal ga kebanyakan & ga senyum-senyum sendirian* insyaAllah bakalan bahagia. Saya udah coba. Ternyata menyenangkan.
Selama masih bisa kontrol, menurut saya sih perasaan-perasaan itu lebih baik jangan dibiarkan terlalu liar *ngomong depan kaca*. Sekarang saya lagi pilih buat ga sedih. Barusan jajan cola & rujak, novel Akar-nya Dee juga udah di tangan. I’m happy and I know it!
Ya sekarang bisa aja saya bahagia, ga usah aneh ya kalo maleman dikit udah posting yang galau-galau lagi. Katanya kesedihan itu bisa bikin orang lebih kreatif soalnya. Jadi it’s ok sekali-kali masih gegalauan supaya bisa nulis. Hahaa
Pokoknya jangan lupa buat bahagia. Cause you deserve it :)

-Tertanda, Megan yang lagi sok-sokan Mario Teguh